21 Agustus 2006

Rampas Kembali Hidupmu!

Seharian tadi kutemani Salas mencari kasur baru untuk tempat kostnya, ternyata selain banjir, musim penghujan juga membawa bencana ‘kecil’ terhadap mahasiswa perantauan seperti kami yang tak memiliki banyak uang untuk menyewa tempat hunian yang relatif lebih layak. Sebuah kos-an yang paling tidak, bebas dari ancaman kemasukan hujan gara-gara atap yang bolong akibat konstruksi rumah yang ‘asal-asalan’. Rupanya, hujan yang terus-menerus selama tiga hari di kota ini membawa ‘bencana kebocoran’ di tempat kostnya (seorang kawan yang menurutku sangat enerjik dan masih punya cukup smangat ditengah-tengah kondisi hidupnya yang telah ‘berkepala dua’), hingga beberapa perabotan super sederhana miliknya rusak akibat terkena genangan air termasuk kasurnya yang sudah berkarat itu. Bukan namanya Salas kalo gak pernah sigap dan cekatan menghadapi kondisi segenting apapun, akhirnya ia memilih untuk pindah ke kamar sebelahnya yang kebetulan kosong dan sudah ditinggalkan oleh penghuninya beberapa hari sebelumnya, tentunya dengan meminta izin terlebih dahulu kepada bapak kosnya.


Tapi kalo dipikir-pikir, kita tentunya masih harus bersyukur sekaligus gelisah karena ternyata masih banyak kawan-kawan kita yang masih diperlakukan tak adil dalam sistem berbangsa dan bernegara kita. Jangankan untuk bisa menyewa tempat tinggal dan bisa merasakan bangku kuliah, untuk bisa survival hidup sehari-hari saja meraka harus ngos-ngosan dan mempertaruhkan banyak hal. Banting tulang kiri-kanan hanya untuk bisa memastikan bahwa mereka masih tetap bisa bernafas besok pagi, entah menjadi pengamen, peminta-minta, buruh murahan, narik becak, pedagang kaki lima atau malah memilih jadi preman.

Betapa absurdnya hidup dinegeri ini, kemiskinan malah menjadi hal yang lumrah dan biasa-biasa saja, sementara pemerintahnya terus berleha-leha mengeluarkan berbagai kebijakan yang sebenarnya turut memiskinkan warga negaranya. Kebijakan tata kota yang amburadul dan hanya mementingkan kaum pemodal menghasilkan penggusuran yang maikin massif dan gencar pada pedagang kaki lima, anehnya masih dengan jargon fasis lama yaitu keindahan dan ketertiban kota, padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa penggusuran terhadap pedagang-pedagang kaki lima selalu akhirnya digantikan dengan merebaknya pusat-pusat pembelanjaan besar bin mewah dan kaya modal dari para kapitalis-kapitalis keparat itu (yang sesungguhnya tak punya kehendak sosial) di tempat yang sama. Sungguh ironis, pedagang-pedagang kecil yang hanya bisa bertaruh dengan kondisi seadanya dan menjadi mayoritas di negeri ini selalu tak mendapat tempat layak sebagai pemilik sah negerinya. Begini jadinya, kalo modal sudah mendominasi sistem hidup kita dan negara hanya bisa menjadi pelayan paling baik dalam logika tersebut.

Di dunia pendidikan lebih aneh lagi, anggaran pendidikan yang seharusnya 20% tak pernah terwujud, pemerintah malah mencabut subsidi pendidikan dan menyerahkan pengelolaannya pada swasta. Sekolah akhirnya menjadi alat bagi berkuasanya modal dan seluruh instrumennya. Parahnya, hal ini membuat akses masyarakat miskin terhadap pendidikan menjadi sekedar mimpi disiang bolong dan menjadi barang langka (selangka dinosaurus di zaman ini) bagi mereka (akh, malas saya menggunakan kata ‘mereka’ karena saya dan mungkin kita semua juga sudah merasakan hal yang sama, walaupun kita masih saja hipokrit dan pura-pura buta dengan semua itu). Belum lagi jika kita menghitung satu demi satu persolan pendidikan kita (mulai dari sistem pengajaran yang tak manusiawi ala positivisme sampai pada keberadaan sistem pendidikan yang sejatinya sangat berjarak dari problem sosial kemasyarakatannya), tambah panjanglah daftar penuh tragis dan kelam di dunia pendidikan.

Belum lagi, orientasi pembangunan kita terlalu bertumpu pada investasi dan kekuatan modal asing juga telah banyak memberikan fakta sekaligus pelajaran histories yang memilukan dan menyedihkan bagi eksistensi rakyat di republic ini. Liatlah kasus Freeport, tak ada yang diberikan selain merusak sistem ekologis lewat limbah, eksploitasi massal kekayaan alam di tanah Papua, merusak tata cultural masyarakat adat melalui penggurunan hutan sementara lingkungan menjadi semacam ‘asset adat’ selama berabad-abad serta pelanggaran HAM. Newmont di Minahasa yang berkontribusi besar atas kematian ratusan orang akibat penyakit Minamata. Dan masih banyak lagi barisan panjang penderitaan akibat menjamurnya korporasi-korporasi internasional di Indonesia.

BIARKAN RAKYAT DIPINGGIR JALAN, PEMERINTAH TAK USAH CAMPUR TANGAN DAN LOGIKA MODAL ADALAH SEGALANYA.

KARENA TAK PERLU MENGEMIS UNTUK MENJADI HIDUP
RAMPAS KEMBALI HIDUP MU.

...btp dini hari

0 comments:

Posting Komentar