15 April 2011

Chuck [Bukan Sebuah Resensi]

Harus saya akui, akhir-akhir ini saya memang keranjingan nonton serial Chuck. Sebenarnya, saya bukanlah jenis orang yang bisa dikategorikan sebagai 'penggila' film, apalagi yang berjenis serial, jika ada perlombaan berapa banyak jumlah film atau serial sudah pernah ditonton, saya mungkin termasuk juru kunci dibanding beberapa kawan yang lain. Perkenalan saya dengan Chuck juga bukan karena memang lagi kepingin nonton film tapi semata-mata karena rasa penasaran melihat si Wawan, Sawing dan Mamet begitu menikmati serial itu. Ibarat orang yang sedang jatuh cinta, hari-hari mereka penuh dengan warna-warni Chuck berikut segala tetek-bengeknya. Melewati satu hari saja tanpanya berarti sama dengan melalui 100 tahun kesunyian. Meski harus menonton dengan hanya mengandalkan netbook milik Sawing, militansi mereka seperti tak berbatas. Barangkali ada semacam kesepakatan umum dibenak orang-orang ini bahwa ukuran layar adalah urusan nomor sekian dibanding keutamaan Chuck itu sendiri. Benar-benar jenis cinta yang keras kepala sodara-sodara!

Dari rasa penasaran ini, saya lalu ikut nimbrung dalam ritual nonbar (nonton bareng) mereka yang khusuk itu (jauh lebih khusuk dibanding acara dzikir sambil menangis ala Arifin Ilham jek) – oh iya, belakangan Mbahnya Maha pun terlibat dalam ritual ini. Awalnya biasa saja, malah saya agak terkejut, kok bisa yah serial yang jelas-jelas menampakan superioritas Amriki melalui aksi intelejen nan heroik itu, dimana si jagoan tak bakal keok meski berhadapan jutaan musuh, mampu menundukan kritisisme mahasiswa pasca-sarjana ilmu hubungan internasional, yang diberikan keahlian khusus oleh Allah SWT yakni: apapun jenis tugas makalahnya, haram hukumnya bergeser dari tema neoliberalisme dan imperialisme!. Selain itu, film ini seperti bercampur-campur antara action, romantik-melankolik dan komedi dalam satu tarikan nafas -- weits ini sudah sok-sokan jadi kritikus film amatiran.

Setelah menyimak beberapa episode, saya akhirnya mendapat ‘jawaban’ atas semua pertanyaan yang menyesakan jiwa diatas. Unsur cerita yang terlihat ‘bercampur-bercampur’ tersebut justru menjadi semacam kekuatan serial ini. Antara Aksi heroik agen intelejen berikut operasi-operasinya dengan keseluruhan kisah cinta asli tapi palsu (yang sebenarnya asli) antara Chuck Bartowski (Zachary Levy) dan Sarah Walker (Yvone Strahovski) seorang agen CIA, serta prilaku konyol para karyawan Buy More (pusat perbelanjaan elektronik) seperti Morgan, Lester, Big Mike, Jeff, merupakan jalinan cerita yang unik dan menyegarkan.

Dalam satu episode saja, kita bisa dibuat ‘berpindah’ secara kontras dari suatu perasaan ke perasaan lainnya. Kita bisa terpingkal-pingkal oleh ulah karyawan Buy More yang lebih mirip konsumer ketimbang penjual, menikmati ‘fasilitas’ kantor (termasuk semua barang elektronik mewah itu) sesuka mereka, atau kesetiaan seorang sahabat yang tiada duanya oleh Morgan kepada Chuck meski dengan cara-cara konyol. Beberapa saat kemudian, berpindah ke adegan-adegan action penuh ketegangan khas James Bond saat memburu target-target intelejen dengan mengandalkan Intersect – database intelejen yang secara (tidak) sengaja tertransfer kedalam otak Chuck, atau melindungi Chuck dari kejaraan Fulcrum yang menginginkan Intersect tersebut. Lalu, disaat yang sama (ini yang paling penting), momen melankolis-romantik antara Chuck dan Sarah, yang sebenarnya saling mencintai tetapi berjalan dengan cara yang ganjil, terutama karena Sarah tetap bersikukuh bahwa hubungan mereka tak lebih dari sekedar penyamaran, semata-mata menjalankan tugas maha suci untuk menjaga aset negara dalam kepala Chuck.

momen ritual
Untuk perkara terakhir ini saya kira merupakan faktor kunci yang membuat keempat kolega saya diatas bergabung dalam kegilaan tersebut. Yah, lagi-lagi urusan cinta!. Hubungan ‘naik-turun’ Chuck dan Sarah memang spesial, saya berani jamin, dalam soal ini anda akan ‘dipaksa’ untuk tidak bisa tidak terus menyimak episode-episode berikutnya. Disini kita seakan disuguhkan pelajaran penting bahwa tanggungjawab dan peran sebagai abdi negara (atas nama profesionalitas) tidak akan sanggup mengalahkan perkara-perkara manusiawi semacam perasaan cinta, seberapapun upaya keras kita untuk menolaknya. Nah, boleh jadi ini adalah kritik tak langsung atas ironi manusia (pos) modern yang terlalu jauh mengabdikan dirinya kedalam struktur-struktur eksternal (dengan dalih kerja, mengejar profit, dst) lalu abai terhadap pemenuhan diri secara otentik. Hal yang sama juga berlaku terhadap kekonyolan-kekonyolan orang-orang disekitar Chuck yang sesungguhnya sangat manusiawi. Saya seratus persen setuju jika aspek kemanusiaan inilah yang membuat serial tersebut sukses mengambil hati penonton TV di amriki, majalah Time bahkan  menempatkannya sebagai top 10 TV series tahun 2008 


-- Intermezzo: salah seorang rekan begitu tergila-gila pada Yvonne Strahovski sampai-sampai mengoogling semua informasi tentangnya lalu dengan bangga mempresentasikan sebuah kesimpulan penting bahwa dia [Yvonne] belum memiliki pacar! (untuk alasan copyright saya tak punya hak untuk mempublikasikan siapa peneliti tersebut) --


Jakarta oh Jakarta!
Lepas dari hiruk-pikuk perjalanan serial tersebut, ada dua episode berbeda yang membuat saya cukup kaget – saya baru mengikutinya sampai dipertengahan session dua dari empat session keseluruhannya. Di dua episode tersebut, secara sepintas lalu, terdapat diaolog yang didalamnya ada kata Jakarta. Sebenarnya, dialog tersebut tak lebih dari keluhan ironi namun humorik Chuck terhadap Sarah, terutama menyangkut status pacaran palsu mereka berdua. Chuck lalu menyimpulkan bahwa seluruh kehidupan para agen intelejen penuh dengan kepalsuan-kepalsuan, menjalani penyamaran tiada akhir ketika melakukan operasi dimanapun, termasuk Jakarta.

Mungkin penyebutan tersebut terlihat sederhana, tetapi saya kira, lebih dari itu, ini merupakan representasi paling kecil atas gambaran besar dari operasi-operasi intelejen Amriki di Indonesia. Saya lalu teringat sejumlah momen di negeri ini, mulai dari awal kemerdekaan sampai sekarang, yang oleh beberapa pihak dikaitkan dengan keterlibatan/intervensi (didalamnya melibatkan operasi intelejen) Amriki. Ambil saja contoh, pemberontakan PRRI/Permesta, peristiwa 65 yang memuluskan kediktatoran Soeharto berkuasa selama 32 tahun, Timur Leste, John Perkins melalui operasi ‘economic hitman’, penangkapan Umar al-Faruk di Bogor, Wikileaks dan mungkin masih banyak lagi operasi belakang layar yang saya dan anda tak bisa menjangkaunya.

Bisa jadi Indonesia merupakan salah satu kisah tersukses dari segenap operasi intelejen Amriki diseluruh benua. Bisa jadi pula inilah mengapa kisah tersebut lalu menjadi keumumaman yang membuat setiap orang begitu terbiasa dengannya. Yah, sebuah kisah sukses yang melalui cara tertentu muncul dalam dialog dalam nada sarkastik serial Chuck diatas, sebagaimana juga (pernah) muncul dalam salah satu operasi intelejen penting di Amerika Latin – malapetaka ‘little september’ bagi Chili – yang menumbangkan rezim sosialis-demokratik dibawah kepemimpinan Salvador Allende: sebuah operasi yang bernama Jakarta!.

Semua informasi tersebut sebagaimana juga akibat-akibatnya, tentu bukanlah hal yang baru bagi kita semua, atau secara paradoks, bisa dikatakan bahwa yang mengejutkan dari seganap fakta tragis itu adalah bahwa ia sama sekali tidak mengejutkan. Ini juga berarti bahwa fakta tersebut tidak akan menjadi apa-apa jika tidak dilekatkan dalam kerangka kerja kapitalisme sebagai akar semua itu, kemudian mendorong setiap orang menyerang langsung keakar tersebut. Disini, peluang bagi politik kolektif lalu menjadi muncul!. Semoga.


[Semacam] Catatan Kaki: Sebenarnya sedari awal tulisan ini bermaksud mengajukan soal 'Jakarta' sebagai yang paling urgen, tapi entah mengapa malah lebih banyak berputar-putar pada keempat kolega tersebut. Biarlah! :p

0 comments:

Posting Komentar