3 September 2006

Bukan Sekedar Memaki

Rupanya, tak ada yang benar-benar beres dinegeri ini. Berkali-kali kita dibuat terluka oleh peringai mereka yang biasa menyebut dirinya “pemilik negara”, hampir bisa dipastikan tak ada kosakata "rakyat" dalam kamus mereka. Lucunya, prilaku ini seperti mendapat tempat dimana-mana, tanpa malu dan tanpa rasa. Bahkan untuk sebuah institusi bernama kesehatan sekalipun, tempat dimana setiap orang semestinya diperlakukan dengan baik, sebab mereka pantas untuk itu.

Rumah Sakit yang sesungguhnya menjadi tempat bagi setiap pasien untuk berobat dan mencari kesembuhan, ternyata tak lebih dari sarang segala penyakit. Bayangkan, hampir sulit mendapatkan perlakuan dan pelayanan yang baik ditempat ini, apalagi jika anda orang miskin dan tak punya uang. Belum lagi, birokrasi yang berbelit-belit, selalu dipersulit dan diagnosa dokter yang sering salah. Maka, tak perlu terheran-heran jikalau anda menemukan orang yang sakitnya bertambah parah bahkan nyawanya harus melayang beberapa saat sepulang dari rumah sakit.

Bukan sekedar gerutu kosong, namun cerita seperti ini berkali-kali kutemukan di rumah sakit. Terakhir tadi sore, ketika menjenguk seorang teman yang sakit. Ruangan yang dihuni teman ini boleh dikategorikan “kelas ekonomi” (sebuah tempat dengan fasilitas seadanya alias untuk mereka yang pas-pasan), semua tempat tidur terisi penuh oleh pasien. Anehnya, rata-rata dari mereka memiliki keluahan yang sama yaitu “tidak dilayani sewajarnya oleh petugas rumah sakit”. Keluhan pertama datang dari teman ku, dengan mimik sedih dan bola mata agak memicik ia berkata “masak saya tidak pernah diperhatikan, sudah dua hari disini tapi baru satu kali diperiksa, itupun oleh perawat bukan dokter”. Menurut diagnosa dokter ia harus dioperasi karena ada masalah dengan ususnya, namun sampai sekarang ia belum tahu pasti kapan jadwal operasinya “tadi siang mereka bilang hari selasa, eh… barusan katanya diubah hari jum’at” keluhnya lagi.


Tiba-tiba kuteringat Deka (teman sekampung yang akhirnya meninggal gara-gara tumor ganas diperutnya), kasusnya hampir sama, akibat tidak ada kepastian jadwal operasi dan minimnya respon rumah sakit terhadap penyakitnya, ia memutuskan untuk kembali ke kampung, padahal sudah hampir dua bulan ia bertahan di tempat ini (kebetulan ruangan yang dahulu ditempati Deka, bersebelahan dengan tempat yang kini “dihuni” temanku) – bahkan dokter pun sudah mengambil sebagian tumornya sebagai sampel penelitian laboratorium, sebuah penantian panjang dan melelahkan. Coba bayangkan berapa banyak ongkos yang ia buang hanya dengan satu harapan; segera sembuh.

Belum lagi tekanan psikis akibat sering dicuekin petugas. Aku percaya, kematian itu niscaya, siapapun pasti menemui ajalnya, namun bukankah setiap kematian memiliki kepantasannya masing-masing. Rasa-rasanya, tak adil ia meninggal dengan cara itu – sistem telah membunuhnya, sebuah sistem yang benar-benar absurd, bobrok, rusak dan tak punya rasa, yang didalamnya hanya berisi jutaan malapetaka bagi kemanusiaan. Kuasa modal telah menjadi mainstream di seluruh rumah sakit negeri ini, hingga orang sakit pun dijadikan komoditas, layaknya barang dagangan.

Deka orang baik. Dan sebagaimana anak muda lainnya, ia masih punya begitu banyak mimpi indah yang harus segera diwujudkan – berlari dan terus berlari. Barangkali, impian seperti itu pula yang membuat ia tak pernah tunduk dan selalu melawan rasa sakit yang sangat. Setidaknya, itu yang bisa kutangkap dari sorotan matanya ketika pertama kali menemukannya terbaring di rumah sakit. Sayang, hidup tak berpihak padanya. Ia harus pergi… (Al Fatihah untuk mu)

***
Bagiku, hidup bukan hanya soal takdir. Tiap orang berhak menentukan kepantasannya masing-masing.

0 comments:

Posting Komentar