"Nowadays, you can do anything that you want—anal, oral, fisting—but you need to be wearing gloves, condoms, protection” (Slavoj Zizek)
“Iklan brengsek!”, begitulah sumpah serapah yang spontan keluar dari mulutku saat melihat sebuah iklan di tv beberapa hari lalu. Tentu saja kedongkolan ini bukanlah yang pertama kali buatku, mengingat saya termasuk orang yang sering ngeri dengan iklan. Bukan apa-apa, tanpa perlu menunggu sampai khatam semua teori canggih nan njlimet ala Cultural Studies atau sejenisnya, cukup belajar dari pengalaman kita sehari-hari saja, saya kira tak terlalu sulit untuk sampai pada sebuah kesimpulan bahwa terlampau banyak ‘tipuan’ dan manipulasi didalamnya, yang terus-menerus dipertontonkan untuk maksud-maksud yang sepenuhnya merugikan kita. Saya yakin se-yakin-yakinnya jika anda (dan kebanyakan orang lainnya) pernah mengalami kesialan-kesialan tragis akibat sikap taklid buta pada iklan – maaf, ini serius bukan lebay!. Lalu apa iklan ‘istimewa’ tersebut? Iklan ini memperlihatkan sekelompok muda-mudi, dengan nuansa khas kelas menengah perkotaan sedang menikmati kopi di sebuah kafe yang kelihatannya begitu mewah. Kali ini, kopinya bukan sembarang kopi, warnanya beda, bukan hitam tapi putih, perbedaan tersebut pula yang selalu diulang-ulang dari awal sampai akhir. Tapi bukan cuma itu ‘keunggulannya’, kopi ini diklaim sebagai terobosan maha dahsyat yang tiada taranya bagi para penggemar kopi sejagad raya: inilah kopi luwak beraroma nikmat dengan kadar asam rendah dan seratus persen aman bagi lambung dan jantung!.
Fantastiknya, manfaat kopi tersebut lalu seolah-olah benar adanya setelah pemirsa diajak untuk mendengar sejumlah testimoni – yang lebih mirip paduan suara – dari kumpulan muda-mudi ini, semuanya ‘satu komando’ setuju dengan rasa dan manfaatnya, dan karenanya siapapun dipenjuru bumi ini tak perlu lagi khawatir lambung perih akibat ngopi. Pokoknya, melalui mereka lah suara sang penikmat kopi sejati seakan sedang berbicara.
[Sungguh ini bukan lebay] Sesaat setelah iklan itu berakhir, diganti parade iklan lain berikutnya, saya mengalami kesakitan yang luar biasa. Harkat dan martabatku sebagai penikmat kopi (hitam) benar-benar tercabik-cabik pada level yang paling fatal. Bukan saja karena beberapa bulan sebelumnya saya dikirim cukup banyak kopi (hitam) Toraja dari Irna, hasil olahan industri rumahan yang sangat sederhana – begitu ceritanya –, bukan pula semata-mata karena kebiasaanku yang sering menyisipkan berbungkus-bungkus kopi khas kampung di dalam tas ketika balik ke Jogja, tetapi terutama disebabkan oleh kesetiaan pada sajian kopi tubruk nan hitam-pekat itu. Yah kopi tubruk, pilihan utama ketika menikmati kopi – kegemaran yang sudah ‘tertempa’ cukup lama, teman paling setia saat melewati hari-hari penuh hasrat sebagai mahasiswa di Makassar dan tetap bertahan sampai sekarang. Bagiku, iklan tersebut tak ubahnya seperti para bigot berdalih agama yang kerjanya menghakimi keyakinan orang lain sebagaimana sering terjadi sekarang. Iklan brengsek, yang menwarkan produknya sebagai jalan pembebasan atas segenap ‘ancaman’ permanen kopi (hitam), berisi anak muda manja dan cengeng pula.
Namun lebih dari itu, saya kira iklan tersebut sebenarnya sedang menunjukan keutamaan moral maha penting, yang justru menjadi (salah satu) fundamen bagi bekerja kapitalisme di lapangan kebudayaan kontemporer. Apa itu? Jawabannya adalah: Racun yang baik adalah racun yang tak beracun!. Disini, kopi (hitam) sejatinya adalah racun – sesuatu yang terlarang, agar terhindar dari bahaya orang hanya perlu ‘melepaskan’ kopi dari dirinya sendiri, yang artinya menjadikan kopi sebagai bukan kopi. Hasilnya adalah sebuah formula baru yakni ‘kopi tanpa racun’. Nah, secara mengejutkan implikasi logis namun paradoks dari kenyataan ini adalah bahwa: menikmati kopi karenanya berarti ngopi yang tanpa kopi!.
Tapi dimanakah ‘keutamaan moral maha penting’ itu? Lalu apa hubungannya dengan logika ngaco soal kopi diatas? Nah ini dia: tinggalkanlah yang murni, nikmati saja sisa-sisa, hiduplah dalam kehidupan yang seolah-olah, lalu mari rayakan hari terakhir peradaban [lha kok malah bercampur-campur dengan kumpulan lirik sebuah band keren abad ini :p]. Yah, saya dan anda hanya akan menjadi manusia sejati jika terlebih dahulu menanggalkan kemanusiaan kita. Apa-apa yang membuat saya dan anda adalah manusia tak lebih dari racun dan harus disingkirkan dalam tempo sesingkat-singkatnya – dengan kata lain, anda dilarang menjadi manusia agar bisa menjadi manusia!. Cukup hidup dalam budaya yang seolah-olah, penuh citra, kepura-puraan, imitasi dan virtual. Reguk dan nikmatilah sesukamu, niscaya inilah kebebasan sejati yang sepenuh-penuhnya bagi mereka yang hidup dalam jagad posmodern sekarang ini.
Disaat yang sama, kapitalisme lalu tampil sebagai juru selamat, obat dari segala jenis racun. Kita wajib menghabiskan seluruh hidup kita dalam mesin-mesin hasrat ciptaan kapitalisme agar mampu memenuhi kemanusiaan kita. Berbelanja lah sepuas mungkin, sebanyak-banyaknya sehingga kelak saya dan anda akan memperoleh gelar paling prestisius sebagai manusia (pos)modern seutuhnya. Tak usah sok suci apalagi mencari yang murni, itu hanya akan membuat kita berakhir dalam nestapa dan ketiadaan sebab semenjak ‘yang murni’ adalah racun maka ia bukanlah apa-apa dalam sistem ini. Lagian bukankah ‘yang murni’ nan ‘suci’ itu bisa dengan mudah didapatkan dimana-mana? Mulai dari mode terbaru busana muslim, fasilitas pencitraan diri, social network dunia maya sampai layanan bercinta secara virtual. Atau jika kita kembali merujuk pada iklan diatas maka mengajukan ‘yang murni’ tak lebih dari usaha paling sia-sia dan konyol yang hanya akan menutup jalanmu mencapai status terhormat sebagai ‘kelas menengah’ dengan segenap gaya hidup yang ada pada dirinya, termasuk bisa ‘menikmati kopi putih di sebuah kafe mewah’.
Celakanya, tak cuma itu, dari sudut pandang yang agak berbeda (meski tetap dalam koridor yang sama), pelajaran moral yang tak kalah penting lainnya dari iklan tersebut adalah bahwa jika kapitalisme itu lalu berubah menjadi racun, maka kebutuhan terbesar umat manusia saat ini bukanlah penolakan radikal dan serius atasnya, apalagi mengajukan cara hidup alternatif yang (secara umum) mampu menjamin kemanusiaan berdiri tegak diatasnya. Sekali lagi bukan itu! Melainkan sebagaimana kopi putih diatas, kita hanya perlu mentransformasikannya menjadi sesuatu yang lebih manusiawi; yang pro si miskin, bersifat demokratis, menjunjung tinggi kebebasan dan hak asasi manusia, menghargai pluralisme dan multikulturalisme, masyarakat yang terbuka, menjaga/mempertimbangkan lingkungan hidup dan bla bla bla.
Ini juga berarti, aspek kemanusiaan bukan hanya menjadi tujuan masyarakat kapitalis kontemporer tetapi juga merupakan moral dasar yang melaluinya kapitalisme bekerja. Maka bukanlah kebetulan jika tendensi-tendensi tersebut menyeruak dimana-mana lalu menjadi semacam tiang penyanggah bagi dunia tempat kita tinggal saat ini. Ambil contoh konsep ‘perang yang adil’; perang yang harus terjadi demi demokrasi dan kemanusiaan atau secara singkat berarti perang demi perdamaian – inilah varian baru perang, sebuah ‘perang tanpa perang’. Atau katakanlah ‘tanggung jawab sosial korporasi’; sebuah korporasi haruslah korporasi yang baik hati, peduli terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya, hisaplah sebanyak-banyaknya tetapi jangan lupa menyisihkan barang sedikit buat ‘mereka’ yang telah dieksploitasi: sebuah ‘korporasi tanpa korporasi’!.
Dengan begitu, kapitalisme lalu mengukuhkan statusnya sebagai satu-satunya jalan hidup terbaik, dan karenannya otomatis sebagai akhir sejarah. Siapa dan apapun mau tak mau harus mengabdikan dirinya dibawah logika tunggal pasar, jika tak ingin mampus dan tamat sebagai ‘bukan apa-apa’. Dengan kata lain, segenap proyek politik yang secara serius menentangnya hanya akan berakhir dalam malapetaka (racun) atau dalam kata-kata ustadz Zizek, sebuah larangan berpikir yang dibangun melalui pemancangan fungsi ideologis terus-menerus yang mengesankan bahwa kritik atas kapitalisme akan selalu merujuk pada Holocasuts, Gulag atau Bencana Dunia Ketiga. Slogannya: Kapitalisme atau Tragedi.
***
Nah, bagaimana jika mengembalikan kopi (hitam) tidak cuma berarti mengembalikan kopi ke khitahnya, tetapi juga berarti mengembalikan semua ‘yang murni’ dan ‘bukan apa-apa’ sebagai senjata untuk menghantam kapitalisme? Mereka ‘yang murni’ dan ‘bukan apa-apa’ adalah mereka yang dianggap racun dan disingkirkan oleh kapitalisme: buruh, petani, miskin kota, mahasiswa, kaum adat, homo seksual, imigran, pekerja seni dan seterusnya – mereka adalah proletariat!. Mereka yang berkata cukup sudah!. Mengembalikan kopi (hitam) karenanya sebuah analogi bagi setiap usaha untuk membentuk kordinat situasi baru diluar kapitalisme, yang tanpanya dunia tak akan selamat!.
…akhirnya insomnia melahirkan anak kandungnya!
[semacam] catatan kaki: entah kenapa tulisan ini jadi serius begini – itu pun jika ada yang menilainya serius. Sungguh ini benar-benar bertentangan dengan motif awal!.



Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
BalasHapusDalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
Yang Ada :
TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
Sekedar Nonton Bola ,
Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
Website Online 24Jam/Setiap Hariny